Her name is Celia
(25 Februari 2015)
Sudah setahun terlewati masa kelam yang menakutkan bagi seorang gadis bernama
Celia, sebab setahun yang lalu pula ia telah kehilangan seseorang yang sangat
dicintai dan sangat amat ia rindukan didalam kehidupan dirinya. Dengan jarak
yang tak bisa mempertemukan mereka, hanya sebuah surat kecil berisi bahwa sang
gadis merasa menyesal dan bersedih sebab ia tak mampu berada disamping
seseorang tersebut.
Namun, hari berganti
hari terlewati membuat perasaannya mulai membaik dan tak begitu sedih lagi. Ia
adalah gadis yang ceria, ramah dan selalu tertawa bersama orang-orang
disekitarnya. Ia menetap bersama ibunya di salah satu kota, yaitu Medan.
Disanalah ia banyak menghabiskan masa kecil dan remajanya, hingga ia kembali
bersekolah dikota tersebut. Melanjutkan sekolahnya ke salah satu sekolah tinggi
dikota tersebut, membuatnya harus kembali mengemban tugas. Sebagai gadis yang
hanya terbiasa menjalani aktifitas dirumah, dan beraktifitas diluar rumah hanya
untuk sekolah. Selama ia disana, banyak sekali berbagai macam peristiwa yang
membuatnya kadang memaksanya untuk berdiam diri dan menyendiri. Sebab
dilingkungan keluarga yang keras, tak seimbang dengan perilakunya selama
disekolahnya.
Ia merasa bahwa semua
ini harus ia jalani dengan sendirinya. Tanpa support yang memang kala itu tak
ia dapatkan dari siapapun, hubungannya dengan sang ibunda yang semula tak
mengijinkannya kembali ke kota tersebut sedang tak membaik. Bahkan ia tak tahu
harus bagaimana, selain tetap berusaha tegar dan sabar menjalani semuanya
sendirian. Di lingkungan sekolahnya, ia terkenal sangat ceria dan tak pernah
bersedih. Teman yang banyak yang selalu menghiburnya membuatnya jarang
menunjukkan sikapnya yang sedang dilanda kesedihan mendalam.
Ya. Dia telah kehilangan
seorang ayah yang sangat dia rindukan kehadirannya sejak kecil. Bagaimana tak
bisa menahan rindu bagi seorang anak brokenhome
seperti ia ? Sejak umur 10 Tahun sudah berpisah dengan ayah dan ibunya
sehingga ia harus berpindah-pindah sekolah sampai ia bisa kuliah. Kehidupan
yang tak membaik mulai melanda keluarganya kala itu, orangtua yang berpisah
karena memang keadaan yang sudah tak memungkinkan untuk bisa dilanjut kembali.
Sehingga dia berpisah dengan semua bagian keluarganya, memang sungguh
perjalanan yang unik.
Celia memiliiki mimpi
yang keinginan yang kuat. Dia hanya ingin menjadi anak yang berhasil walau
seberat apapun rintangan yang ia terima. Dia hanya ingin menunjukkan bahwa
seorang anak brokenhome itu bisa berhasil
meraih cita-cita meskipun keadaan yang memang ntah bagaimana. Dia hanya ingin
sekolah selagi ia mampu, sebab dengan jalan itulah ia bisa memenuhi janjinya
kepada sang ayah saat ia kecil. Sang ayah pernah berbicara kepadanya, bahwa
tidak ada yang tidak mungkin didunia ini selagi kita ada kemauan, mau berusaha
dan ngga mudah mundur begitu saja.
Sejak itu, ia merasa
yakin dengan apa yang dijalani dan dilewatinya. Begitu urusan pribadinya yang
sangat tertutup, membuatnya harus tetap menlanjutkan pendidikannya sebaik
mungkin. Ia percaya bahwa Tuhan takkan membiarkan hambanya sendiri didunia ini.
Jika kita masih berniat menjadi seseorang yang bertanggungjawab atas diri
sendiri dan orang lain maka tidak ada yang tidak mungkin. Selalu berikhtiar, sabar
adalah kunci utama melewati segala persoalan hidup.
Hingga saat ini, Celia
tetap melanjutkan sekolahnya yang sempat berhenti karena ia harus terpaksa
pulan. Keadaan yang sudah tak mengijinkannya untuk di Medan. Ia kembali
ketempat asalnya, dan melanjutkan kembali bersekolah seperti sebelumnya. Celia
merasa sangat bersyukur bahwa do’anya telah dikabulkan oleh Sang Maha kuasa,
sehingga ia bisa berkumpul kembali kepelukan sang ibunda.
Setidaknya, dengan
keadaan yang sekarang Celia selalu tersenyum walau terkadang ia masih merasa
semuanya terjadi begitu cepat..