quickedit{display:none;}

Kamis, 09 Juli 2015

Life story ~

Her name is Celia
(25 Februari 2015) Sudah setahun terlewati masa kelam yang menakutkan bagi seorang gadis bernama Celia, sebab setahun yang lalu pula ia telah kehilangan seseorang yang sangat dicintai dan sangat amat ia rindukan didalam kehidupan dirinya. Dengan jarak yang tak bisa mempertemukan mereka, hanya sebuah surat kecil berisi bahwa sang gadis merasa menyesal dan bersedih sebab ia tak mampu berada disamping seseorang tersebut.
Namun, hari berganti hari terlewati membuat perasaannya mulai membaik dan tak begitu sedih lagi. Ia adalah gadis yang ceria, ramah dan selalu tertawa bersama orang-orang disekitarnya. Ia menetap bersama ibunya di salah satu kota, yaitu Medan. Disanalah ia banyak menghabiskan masa kecil dan remajanya, hingga ia kembali bersekolah dikota tersebut. Melanjutkan sekolahnya ke salah satu sekolah tinggi dikota tersebut, membuatnya harus kembali mengemban tugas. Sebagai gadis yang hanya terbiasa menjalani aktifitas dirumah, dan beraktifitas diluar rumah hanya untuk sekolah. Selama ia disana, banyak sekali berbagai macam peristiwa yang membuatnya kadang memaksanya untuk berdiam diri dan menyendiri. Sebab dilingkungan keluarga yang keras, tak seimbang dengan perilakunya selama disekolahnya.
Ia merasa bahwa semua ini harus ia jalani dengan sendirinya. Tanpa support yang memang kala itu tak ia dapatkan dari siapapun, hubungannya dengan sang ibunda yang semula tak mengijinkannya kembali ke kota tersebut sedang tak membaik. Bahkan ia tak tahu harus bagaimana, selain tetap berusaha tegar dan sabar menjalani semuanya sendirian. Di lingkungan sekolahnya, ia terkenal sangat ceria dan tak pernah bersedih. Teman yang banyak yang selalu menghiburnya membuatnya jarang menunjukkan sikapnya yang sedang dilanda kesedihan mendalam.
Ya. Dia telah kehilangan seorang ayah yang sangat dia rindukan kehadirannya sejak kecil. Bagaimana tak bisa menahan rindu bagi seorang anak brokenhome seperti ia ? Sejak umur 10 Tahun sudah berpisah dengan ayah dan ibunya sehingga ia harus berpindah-pindah sekolah sampai ia bisa kuliah. Kehidupan yang tak membaik mulai melanda keluarganya kala itu, orangtua yang berpisah karena memang keadaan yang sudah tak memungkinkan untuk bisa dilanjut kembali. Sehingga dia berpisah dengan semua bagian keluarganya, memang sungguh perjalanan yang unik.
Celia memiliiki mimpi yang keinginan yang kuat. Dia hanya ingin menjadi anak yang berhasil walau seberat apapun rintangan yang ia terima. Dia hanya ingin menunjukkan bahwa seorang  anak brokenhome  itu bisa berhasil meraih cita-cita meskipun keadaan yang memang ntah bagaimana. Dia hanya ingin sekolah selagi ia mampu, sebab dengan jalan itulah ia bisa memenuhi janjinya kepada sang ayah saat ia kecil. Sang ayah pernah berbicara kepadanya, bahwa tidak ada yang tidak mungkin didunia ini selagi kita ada kemauan, mau berusaha dan ngga mudah mundur begitu saja.
Sejak itu, ia merasa yakin dengan apa yang dijalani dan dilewatinya. Begitu urusan pribadinya yang sangat tertutup, membuatnya harus tetap menlanjutkan pendidikannya sebaik mungkin. Ia percaya bahwa Tuhan takkan membiarkan hambanya sendiri didunia ini. Jika kita masih berniat menjadi seseorang yang bertanggungjawab atas diri sendiri dan orang lain maka tidak ada yang tidak mungkin. Selalu berikhtiar, sabar adalah kunci utama melewati segala persoalan hidup.
Hingga saat ini, Celia tetap melanjutkan sekolahnya yang sempat berhenti karena ia harus terpaksa pulan. Keadaan yang sudah tak mengijinkannya untuk di Medan. Ia kembali ketempat asalnya, dan melanjutkan kembali bersekolah seperti sebelumnya. Celia merasa sangat bersyukur bahwa do’anya telah dikabulkan oleh Sang Maha kuasa, sehingga ia bisa berkumpul kembali kepelukan sang ibunda.
Setidaknya, dengan keadaan yang sekarang Celia selalu tersenyum walau terkadang ia masih merasa semuanya terjadi begitu cepat..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar